9.4.18

Cukup Setengah Hari Di Selatan Jogja Menjelajah Pegunungan Dan Pantai

4:55 PM 6 Comments
Puncak Becici, Muntuk Dlingo, Bantul

Salah satu penyebab Jogja makin berkibar sebagai destinasi utama pariwisata Indonesia adalah obyek wisata lama yang terpelihara, obyek wisata baru yang terus tumbuh dan jarak antar obyek wisata yang dekat. Semua itu bisa ditempuh dengan mudah menggunakan mobil atau sepeda motor, baik milik pribadi maupun sewa. 

Teman-teman dari berbagai kota sering bertanya, bagaimana cara menikmati Jogja dengan maksimal jika hanya punya setengah hari? Misalnya jika hanya punya waktu Sabtu untuk jalan-jalan di Jogja karena Jumat masih ngantor, sedangkan Minggu mau bersih-bersih rumah dan cuci mobil sebelum kembali bekerja di hari Senin. Menjelajah selatan Jogja ini adalah satu contoh apa saja yang bisa teman-teman dapatkan dengan waktu sesempit itu. Teman-teman bahkan tak perlu menginap di Jogja jika punya aktivitas di hari berikutnya seperti itu.

Misalnya teman-teman tinggal di Jakarta, maka secara garis besar jadwal jelajah selatan Jogja adalah sebagai berikut:
  • Pagi naik pesawat dari Jakarta ke Yogyakarta
  • Menjelajah selatan Jogja
  • Naik pesawat terakhir pulang ke Jakarta
Agar rencana teman-teman berjalan mulus, gunakan maskapai terpercaya seperti Garuda yang nyaris tak pernah delay kecuali ada force majeure. Kalau delay, rencana bisa berantakan. Tiket Pesawat murah bisa saja didapat meski akhir pekan. Caranya, incar jauh-jauh hari dan jangan berurutan dengan tanggal merah di hari Jumat. Teman-teman bisa mengincar Tiket Pesawat Garuda melalui  website Skyscanner atau mengunduh aplikasinya supaya lebih praktis.


Foto diatas adalah ilustrasi jika teman-teman merencanakan ke Jogja pada tanggal 21 April 2018, pas hari Kartini. Bisa tu, ke Jogja rame-rame dengan mom squad. Tiket Pesawat Garuda Indonesia dengan mudah bisa dicari dan dibooking. Saya paling suka dengan fitur pengaturan waktu Pergi dan Pulang yang bisa kita geser-geser sesuai dengan rencana kita. Dengan fitur ini kita bisa langsung block jam yang diinginkan tanpa capek mata scroll melihat hasil filter waktu.

Sedangkan destinasi yang bisa menjadi pilihan teman-teman dalam waktu sesingkat itu adalah:

  • Pasar Kakilangit, Mangunan, Dlingo, Bantul
  • Puncak Becici, Muntuk, Dlingo, Bantul
  • Bukit Lintang Sewu, Muntuk, Dlingo, Bantul
  • Hutan Pinus Asri, Mangunan, Dlingo, Bantul
  • Gumuk Pasir Parangtritis, Bantul
  • Pantai Parangtritis, Bantul
Untuk mencapai lokasi tersebut dari bandara juga cukup mudah karena sudah terjangkau taksi online. Saran saya sih lebih baik menyewa mobil bersama sopirnya saja supaya fleksibel. 

Perlu dicatat bahwa obyek wisata di sekitar wilayah itu sangat banyak sehingga teman-teman bisa menggantinya dengan yang lain sewaktu-waktu disana jika terpaksa. Tak perlu jauh-jauh buang waktu jika salah satu destinasi diatas dalam perbaikan atau masih banyak kesempatan untuk menambah destinasi. Misalnya ketika lewat sana kok ada obyek baru atau yang menurut teman-teman lebih menarik, tinggal berhenti saja di lokasi tersebut. Bahkan dalam berwisata, selera orang berbeda-beda.

JELAJAH PEGUNUNGAN

Dari bandara, teman-teman bisa langsung menuju obyek wisata pegunungan Sewu di daerah Dlingo, Bantul, yang sedang hits. Banyak yang mengira, obyek wisata di Dlingo itu hanya Taman Buah Mangunan yang terkenal dengan perburuan sunrise-nya. Tidak usah kecewa jika sunrise tak terkejar karena sebenarnya seputar Dlingo itu banyak sekali obyek wisata yang bagus, yang tidak habis dalam sehari. 

Februari 2018 lalu, kami sekeluarga sudah mencoba jalur ini, semoga kondisinya masih sama setelah 1,5 bulan kemudian. Kami memulainya agak siang, yaitu jam 11.00, karena kalau hari libur memang malas keluar rumah pagi-pagi. Di hari kerja, kami semua sudah keluar rumah jam 06.00, jadi di hari libur kami ingin menikmati suasana santai dulu sampai agak siang. 

Jika teman-teman berangkat dengan pesawat paling pagi, bisa sarapan dulu setibanya di Jogja. Sepanjang jalur dari bandara ke Imogiri, banyak kok rumah makan untuk sarapan. Misalnya Soto Pak Marto dan Gudeg Bu Tjitro diseberang JEC atau jajan di Pasar Imogiri. Sepanjang jalan Imogiri Timur setelah ring road juga banyak warung soto yang meski tidak terkenal tapi segar khas ndeso dengan tambahan kemangi.

Rute menuju ke Dlingo bisa diikuti melalui google maps dan cukup akurat karena merupakan destinasi wisata yang sedang populer. Yang kami incar sebenarnya hanya 2, yaitu hutan pinus dan puncak Becici. Puncak Becici dahulu sempat dikunjungi Barack Obama. Ternyata disana banyak sekali spot yang dibuka masyarakat setempat dan ditata rapi untuk wisatawan. Jadi, tinggal pilih saja.

Memasuki wilayah Mangunan, Dlingo, yang pertama kami kunjungi adalah Pasar Kakilangit. Ini adalah pasar untuk keperluan wisata, jadi tidak buka tiap hari. Yang dijual adalah berbagai makanan tradisional. Pasar ini harusnya sudah tutup pada jam 12.00. Untunglah ketika kami sampai, masih banyak kedai yang buka. Kata bapak pengurus yang ramah, dimusim libur mereka buka hingga jam 15.00. Karena didesign untuk wisata, maka seluruh partisipan menggunakan busana adat Jawa. Mata uang yang digunakan juga dari tanah liat kering yang dicetak. Ada counter khusus untuk penukaran uang.



Di pasar Kakilangit ini dijual berbagai makanan khas setempat antara lain, pecel, gethuk, tiwul, sate kere, baceman, peyek dan sebagainya. Selain makan sate kere dan tiwul disana, saya juga membawa pulang serundeng. Serundeng adalah parutan kelapa yang dibumbui. Rasanya manis legit tapi juga ada gurihnya. Sekantung serundeng harganya Rp10.000,- dan bisa menjadi teman makan nasi yang bikin nambah terus. Serundeng ini mengingatkan jaman kecil saya dulu. Ibu saya sering membuat serundeng karena bisa disimpan berhari-hari, nggak capek di dapur. Tapi buatan ibu saya dulu ada potongan dagingnya kecil-kecil, yang ini tidak ada.



Dari Pasar Kakilangit, kami naik lagi dan menjumpai beberapa obyek wisata yang dikelola warga. Sampai disuatu pertigaan kami belok kiri mengikuti petunjuk ke arah hutan pinus. Di pertigaan ini ada rumah Hobbit. Meski sebenarnya ini diadaptasi dari film petualangan fantasi, tapi rumah Hobbit ini banyak disukai anak-anak kecil. Kami sendiri tidak mampir karena perhatian langsung teralihkan oleh hutan pinus disebelahnya. Dari sinilah deretan hutan pinus dimulai sampai jauh ke dalam.

Jadi hutan pinus di wilayah Dlingo ini sangat luas. Di beberapa tempat dibuka untuk wisata yang dikelola warga. Warga memberi nama yang berbeda-beda untuk masing-masing gerbang masuk. Tiap obyek memiliki keunggulan yang berbeda, tapi paling banyak adalah spot selfie. Kreasi spot selfie-nya sangat beragam yang bagus sekali difoto. Namun kami lebih suka duduk dan menikmati pemandangan. 

Kami bablas ke tujuan yang paling jauh yaitu Puncak Becici dulu. Sepanjang jalan kami tergoda untuk mampir ke obyek lain. Tapi mengingat waktu yang tidak akan cukup untuk semua, maka kami harus menguatkan hati untuk jalan terus.



Dibandingkan dengan obyek wisata lain disekitarnya, Puncak Becici boleh dibilang paling ramai. Sepanjang pintu masuk sudah berjajar pedagang makanan. Teman-teman bisa membeli ramuan wedang uwuh untuk oleh-oleh. Di sini juga ada pendopo untuk tetirah. Tak ketinggalan spot foto baik yang buatan seperti sarang burung dan panggung  lebar, maupun yang alami berupa lereng bukit dengan pemandangan luas hingga cakrawala. Banyak pilihan yang bisa dilakukan disini. Tapi berhubung Puncak Becici menjadi terkenal setelah kedatangan Barack Obama, tempat ini menjadi paling ramai. Menurut saya, ramainya masih wajar, tidak berdesak-desakan atau kesulitan untuk foto.

Sebenarnya kalau cuma pengin foto diantara pohon pinus, di Puncak Becici ini juga banyak. Tapi memang pohon-pohonnya tidak setinggi hutan pinus lainnya.




Dari Puncak Becici kami bermaksud langsung ke hutan pinus karena cuaca masih mendung sehabis hujan. Takut hujan lagi. Tapi anak-anak minta mampir ke Lintang Sewu karena sepintas sepertinya bagus. Meski juga menyajikan spot foto tapi Lintang Sewu agak berbeda karena andalannya bukan pohon pinus melainkan bunga warna warni. Sebagian bunga itu agak rusak diinjak. Entah ada apa dengan perkara para wisatawan yang suka menginjak-injak ini. Semoga jika teman-teman kesini berkenan untuk ikut menjaga keindahannya.


Tinggallah satu obyek wisata yang harus kami datangi, yaitu yang ada hutan pinusnya. Dalam perjalanan ke Becici sebelumnya, kami telah mengincar 2 hutan pinus, yaitu hutan pinus Mangunan, disebut juga hutan pinus Imogiri, dan hutan pinus Asri.

Hutan pinus Mangunan terletak  setelah rumah Hobbit, sedangkan hutan pinus Asri berada setelah hutan pinus Mangunan jika dilihat dari arah Jogja. Sebenarnya hutan pinus Mangunan lebih luas, banyak tempat duduk dan banyak spot foto. Tapi waktu itu di sana lebih ramai meski tetap bisa tertampung semua dengan nyaman. Meski begitu, saya merasa kurang sreg sehinnga memilih hutan pinus Asri.



Hutan pinus Asri ini seharusnya bagus sekali buat foto atau sekedar duduk melongarkan pikiran. Sayangnya waktu itu habis hujan deras sehingga kondisi tanah yang serupa tanah liat itu sangat licin. Hati-hati memilih pijakan dan pegangan karena medan cukup curam. Jika membawa anak-anak harap dijaga karena meski licin seperti itu banyak yang tetap berlarian. Untung tidak ada yang jatuh. Disini juga ada beberapa spot foto menarik dan rumah spongebob di bikini bottom.

ANTARA PEGUNUNGAN DAN PANTAI

Kami keluar wilayah Dlingo ketika waktu sudah beranjak sore.  Waktu itu kami tidak menggunakan google maps karena sudah pernah lewat sana meski agak lupa. Ancar-ancarnya, di pertigaan Mangunan - makam Imogiri belok kiri. Di pertigaan ke arah Jogja, kita tidak belok kanan masuk jalan yang lebar dan mulus melainkan lurus saja ke selatan, masuk ke kampung, ke jalan Imogiri - Siluk. Di jalan itu ada yang rusak berlubang sehingga dipasangi tulisan "kendaraan dilarang lewat". Berhubung mobil kami kecil, kami nekad melipir karena sudah dekat dengan jalan raya. Setelah masuk jalan raya, ikuti saja papan penunjuk arah. Semoga sekarang sudah diperbaiki karena hanya kerusakan kecil. Rutenya sangat mudah dan sepi, jadi bisa benar-benar sambil menikmati pemandangan yang menyegarkan. Setelah itu kita akan langsung sampai di Kretek, pintu gerbang pantai-pantai Bantul.

Tapi jika teman-teman ragu, bisa mengikuti rute yang dipilihkan google maps melalui Jl Parangtritis. Agak memutar tapi jalannya lebih lebar dan jelas. Tentu saja lalu lintas lebih ramai dan sudah banyak rumah penduduk.

JELAJAH PANTAI

Dari Kretek, lagi-lagi kita punya banyak sekali pilihan. Itulah Jogja, berlimpah obyek wisata. Jika dari Kretek ke barat, ada pantai Samas, Pandansari dan Goa Cemara. Agak jauh lagi ada pantai Kuwaru dan Baru. Jika ke timur ada pantai Depok, Parangkusumo dan Parangtritis. Kami memilih ke Parangtritis, pantai yang dikelola sebagai tempat wisata lebih dahulu dibandingkan dengan pantai lain. Lagipula kami sudah bertahun-tahun tidak kesana karena asik mencoba pantai-pantai yang lebih baru.

Sebelum memasuki kawasan pantai Parangtritis, kita harus melewati gerbang besar untuk membayar tiket. Tapi memutuskan tidak lewat sana agar bisa menyusur pantai Depok dan Parangkusumo juga. Jadi, persis didepan gerbang itu ada jalan ke arah kampung di kanan jalan. Masuk saja kesitu karena tidak ada penunjuk jalannya. Tapi di google map terlihat kok. Ujung dari jalan ini adalah pantai Depok. Kami tidak mampir karena masih kenyang. Pantai Depok ini cocok untuk wisata kuliner karena ada pasar ikan yang hasilnya bisa langsung minta dimasakkan di warung-warung dekat sana. Kalau tidak mau repot memilih ikan, tinggal pesan saja ke pemilik warung makan. Untuk bermain air, pantai Depok kurang sesuai karena curam.

Sepanjang pantai Depok sampai gumuk pasir terlihat klub terbang layang yang sedang latihan. Daerah sini memang kerap dijadikan lokasi mendarat peminat aerosports. Menurut ahli geologi, Shuckin seperti dikutip oleh www.geografi.org, gumuk pasir adalah semua akumulasi pasir yang terbentuk akibat angin, baik yang terdapat di daerah pantai maupun di padang pasir. Gumuk pasir antara pantai Depok dan Parangkusumo ini sudah tidak sebanyak dulu, bahkan garis pantai sudah masuk jauh ke daratan dan merendam sebagian jalan lama. Kemungkinan ini akibat penambangan pasir yang tidak terkendali.



Kegiatan penambangan pasir tersebut juga meninggalkan cekungan yang kemudian terisi air sehingga membentuk laguna atau danau kecil. Laguna dan danau kecil tersebut dikelola menjadi tempat wisata baru. Selain untuk duduk-duduk dan spot foto, juga digunakan anak-anak muda untuk ski air. Teman-teman juga masih bisa mencoba ski pasir lo. Meski area berpasirnya tidak seluas dulu tapi tetap seru.

Sebagian jalan lama penghubung ini adalah spot yang sering digunakan untuk foto pre wedding. Pohon cemara (orang Jogja menyebutnya cemaro urang atau cemara udang) di kanan dan kiri jalan tumbuh lebat sehingga membentuk lorong yang keren jika di foto. Jika ingin berfoto disini, carilah tempat yang bisa digunakan untuk memarkir mobil dengan baik karena tidak ada tukang parkir dan jalan tidak lebar. Sebelum mencapai Parangkusumo, jalan lama dibelokkan karena tergenang air laut.




Pantai Parangkusumo adalah pantai yang digunakan untuk upacara labuhan kraton Ngayogyakarta Hadiningrat. Disana ada tempat yang bernama Cepuri, tempat Panembahan Senopati yang merupakan cikal bakal kraton Yogyakarta bertapa. Karena itu, jika tidak ada upacara labuhan, pantai ini cenderung sepi. Pantai Parangkusumo juga curam sehingga kurang cocok untuk bermain air. Teman-teman bisa mendapatkan kisah seputar Panembahan Senopati dan berdirinya kraton Yogyakarta.



Pantai Parangtritis sekarang sudah ditata rapi dan lebih bersih. Tapi tetap saja ada pengunjung sekeluarga di depan kami duduk yang meninggalkan bungkus makanan dan minumannya begitu saja diatas pasir pantai. Teman-teman jangan seperti itu, ya! Saya tidak mau berteman dengan orang yang tidak peduli dengan kebersihan sekitar.

Perubahan yang paling jelas adalah parkir yang sangat luas, lengkap dengan mesjid. Jadi, setelah sunset, buru-buru deh kesini buat sholat Maghrib. Bagi anak kecil yang ingin main air sudah ada kolam air tawar sehingga lebih aman dibandingkan dengan bermain air di pantai. Pantai Parangtritis landai sehingga pemandangan bisa bebas lepas ke arah lautan. Tapi jika bermain air di pantai harus tetap waspada, jangan terlalu jauh masuk ke air karena ada palung-palung yang tidak tampak.




Fasilitas wisata lainnya juga lengkap, dari kuda, kereta, ATV hingga odong-odong. Penjaga pantai juga sigap mengawasi pengunjung laksana Baywatch. Kami sendiri memilih main air, menyewa tikar dan ngemil peyek undur-undur yang banyak dijual disana sambil menunggu saat matahari tenggelam.

Hari kian gelap, sebaiknya teman-teman segera menuju ke bandara Adi Sucipto. Saya punya prinsip, lebih baik menunggu lama di bandara daripada ketinggalan pesawat. Teman-teman bisa makan malam di bandara. Kalau mau mengirit, bisa beli nasi ayam penyet yang banyak terdapat di tepi jalan. Selain pelayanannya cepat, juga bikin kenyang setelah seharian beraktivitas fisik. Jika waktu masih cukup banyak, bisa mampir juga ke restoran yang khas Jogja misalnya ayam Ny Soeharti atau gudeg Yu Djum. Sepanjang jalan raya Jogja - Solo menuju bandara juga banyak toko oleh-oleh.

Nggak perlu nunggu cuti panjang kok buat ke Jogja.  

1.4.18

Borong Tanaman Di Taman Wisata Kopeng

8:57 PM 0 Comments
kopeng


Kopeng adalah desa wisata lama di wilayah kabupaten Semarang. Saya sudah beberapa kali kesana tapi dari Magelang. Dari kota Magelang, jarak Kopeng lebih dekat jika dibandingkan dengan dari kota Semarang. Kopeng pernah sangat terkenal dan menjadi tujuan wisata alam utama di Jawa Tengah. Keberadaannya pelan-pelan meredup, kalah dengan obyek wisata baru yang lebih bisa mengakomodasi kebutuhan wisatawan jaman sekarang, antara lain spot foto, atraksi yang lebih beragam dan kuliner yang khas.


kopeng


Pemerintah daerah dan masyarakat bukannya tidak menyadari hal ini. Berbagai inovasi sudah dilaksanakan untuk mengejar ketinggalan tersebut. Terlebih, Top Selfie yang sedang hits berada tak jauh dari Kopeng sehingga menyedot pengunjung kesana. Salah satu usaha jemput bola yang dilakukan adalah memasang baliho raksasa di Ring Road Utara Yogyakarta yang mempromosikan wisata outbond di Kopeng.


kopeng


Saya sendiri bukanlah pengejar spot foto untuk selfie. Saya adalah penikmat perjalanan yang sudah bahagia jika bisa melihat kehidupan masyarakat yang tenteram sepanjang perjalanan. Pemandangan di kanan dan kiri jalan serba hijau dan sejuk. Kopeng diapit oleh gunung Merbabu, Andong dan Telomoyo.


kopeng


Salah satu yang unik sepanjang jalan menuju ke Kopeng adalah mesjid-mesjid yang designnya mirip dengan mesjib di Riau.


kopeng


Kata teman saya yang penganut agama lain, Kopeng sering mereka gunakan untuk menyepi dan beribadah. Biasanya mereka pergi berombongan. Di wilayah Kopeng terdapat banyak villa yang disewakan.


kopeng

Untuk obyek wisata yang berada didalam Taman Wisata Kopeng sendiri banyak yang sudah tidak berfungsi. Tapi masih ada obyek baru diluar taman wisata untuk seluruh keluarga.


kopeng

Jika ke Kopeng, tujuan saya hanya tanaman. Meskipun sesampainya dirumah tidak semua bisa bertahan lama, tapi saya kok nggak kapok beli disana. Lagipula sebab tanaman tersebut tidak bisa bertahan lama adalah karena saya tidak telaten merawatnya. Kalau sudah berada di tempat penjualan tanaman, saya sering lupa diri melihat bunga yang cantik dan berwarna cerah. Selain itu, banyak pula tanaman bumbu yang sulit dicari di kota saya, misalnya rosemary yang digunakan Gordon Ramsay ketika memasak steak. Harga-harganya pun tidak mahal.


kopeng

Hasil akhir yang diharapkan dari piknik itu adalah kesehatan jiwa. Jadi pilih saja apa yang ingin dinikmati dari sebuah destinasi. Tidak perlu harus seperti orang-orang.

Taman Wisata Kopeng
Jl Raya Salatiga - Semarang Km 15
Kopeng, Getasan, Semarang, Jawa Tengah
Telepon (0298) 318344

27.3.18

Dinner Di Jendela Bali The Panoramic Resto GWK Bonus Tari Kecak

7:10 PM 3 Comments
Jendela Bali The Panoramic Resto GWK

Oke, lagi-lagi ini dinner gratis ya, alias ditraktir Daihatsu setelah saya mencoba mobil keluaran terbaru mereka. Hasil dari tes tersebut sudah saya posting di blog www.beyourselfwoman.com . Jadi, mohon maaf saya tidak bisa memberikan informasi tentang tiket atau harga. Bisa saja sih saya googling tapi itu jarang sekali dilakukan untuk postingan di blog ini. Apa yang saya posting, berarti adalah yang saya alami sendiri. Entah kalau nanti ada content placement, tapi sampai saat ini belum ada. 

Dinner di Jendela Bali ini sebenarnya dijadwalkan serangkaian dengan pertunjukkan Tari Kecak Ramayana 18.00 - 18.30 di GWK atau Garuda Wisnu Kencana yang berada dalam satu kompleks. Tapi karena kegiatan sebelumnya selesai agak lama, kami terlambat sampai di GWK sehingga tak sempat jalan-jalan dulu. Kami langsung digiring masuk ke arena Tari Kecak. Disana, pengunjung sudah hampir penuh dan pertunjukan sudah dimulai. Untung kami masih bisa mendapatkan tempat duduk.


Jendela Bali The Panoramic Resto GWK

Setelah Tari Kecak selesai, GWK mulai gelap sehingga tidak memungkinkan untuk jalan-jalan. Kami langsung diarahkan ke Jendela Bali The Panoramic Resto. Sesuai dengan namanya, restoran ini sangat menakjubkan karena menyuguhkan sebuah jendela yang menghadap panorama Bali. Karena dinner, pemandangannya makin keren dengan kelap kelip kota di kejauhan. Suasananya tenang dan redup, romantis banget deh untuk dinner berdua. Kalau kami sih rame-rame.


Jendela Bali The Panoramic Resto GWK

Kami disambut dengan hiasan rambut bunga kamboja untuk wanita dan ikat kepala untuk pria. Karena acara korporasi, kami tidak menempati meja yang tepat didepan jendela, melainkan di area kolam. Disana sudah di set up panggung kecil untuk games dan hiburan. Alhamdulillah, saya menang beberapa games dengan hadiah lumayan disana.


Jendela Bali The Panoramic Resto GWK

Untuk hidangan utama, kami disuguhi masakan khas Bali, antara lain soup, sate lilit, sate ayam, lawar, sapi lada hitam, urap kecipir, ayam goreng, ayam bakar dan sambal matah. 


Jendela Bali The Panoramic Resto GWK

Setelah makan, masih ada banyak dessert. Ini hanya sebagian saja yang terfoto, yaitu buah-buahan, lapis dan ketan. Seingat saya masih ada dawet dan banyak lagi.

Menurut saya, Jendela Bali adalah restoran terbaik yang pernah saya kunjungi jika dilihat secara keseluruhan, baik hidangan, pelayanan dan pemandangan. Karena gratis, nilai plusnya adalah membuat hati saya bahagia. Heheheee....

Jendela Bali The Panoramic Resto 
Jl. Uluwatu, Ungasan, Kuta Selatan, Kabupaten Badung
Bali 80361
Telepon (0361) 703603
Website: www.gwkbali.com atau www.gwk-culturalpark.com 

11.3.18

Itinerary Bromo Dari Jogja Spesial Untuk Si Tukang Mager

11:00 PM 4 Comments
gunung bromo


Bromo adalah salah satu destinasi wisata yang sudah lama masuk wish list keluarga kami. Tapi saya terus-menerus ragu karena referensi saya adalah blog teman-teman traveller yang gagah berani, sedangkan saya membaca soal antri toilet saja langsung mundur. Belum lagi membaca usaha teman-teman untuk melihat sunrise. Kayaknya sengsara banget gitu ya, malam-malam ngos-ngosan berdesakan mencapai puncak. Mungkin saya sudah melambai ke ambulance di menit-menit pertama.

Namun demikian, rasa penasaran itu harus dituntaskan demi melihat foto teman saya dan ibunya gegulingan di pasir. Nenek-nenek saja bisa, masa saya yang masih pra-nenek takut? Mulailah saya googling tiap hari, mencari cara paling enak untuk mencapai Bromo. Ya elah! Hahahaaa....

gunung bromo
Tunggu warga Tengger

Saya mengutak-atik kemungkinan masuk dari Probolinggo dan Pasuruan karena banyak keluarga yang masuk dari sana setelah sebelumya menginap dulu di villa. Katanya sih kalau dari Malang kejauhan. Yang pertama saya pegang adalah terima kenyataan diri dan lupakan melihat sunrise, jadi jadwalnya bisa lebih fleksibel. Tapi setelah melihat fakta jalan dari Jogja ke Jatim banyak macetnya karena masih musim Lebaran, kami lupakan road trip dan beralih ke kereta api.

Dari kereta, kami mempertimbangkan ke Malang dulu atau ke Batu dulu atau bagaimana. Akhirnya kami putuskan harus ke Bromo dulu. Setelah dari Bromo barulah kami bersantai di Malang dan Batu. Takutnya kalau Bromo terakhir, nanti bermasalah dengan kereta karena jarak tempuh ke stasiun yang jauh.

gunung bromo
Sarapan ala Desa Ngadas

Kami juga menghitung-hitung transportasi yang disarankan oleh beberapa blog. Kami merasa kalau disambung ini itu kok ribet. Meskipun kelihatannya murah, tapi sesugguhnya seperti itu lebih mahal dan tidak fleksibel kalau rencana tempat wisata yang akan dikunjungi cukup banyak. Akhirnya kami putuskan menyewa all in dari turun kereta api sampai naik kereta api lagi sewaktu pulang nanti, termasuk biaya jip atau jeep di Bromo.

Jadi rencananya Jogja ke Bromo seperti ini: Jogja - kereta api - Malang - mobil rental - jip - Bromo - jip - mobil rental - Malang.

Kami naik kereta api eksekutif Malioboro Ekspress yang tiketnya murah cuma Rp 225.000,-. Kami berangkat jam 20.45, dan sampai di Malang jam 04.00. Di stasiun Malang, kami disambut oleh sopir mobil rental yang akan langsung mengantar kami Bromo.


gunung bromo


Supaya ngirit, kami memilih avanza saja untuk transportasi antar kota. Yang penting AC wajib adem. Jasa transportasi ini juga untung-untungan sih kami cari di internet, ketemulah Vita Transport, www.vitatransport.co.id, telpon 082 142 543 004 atau 081 333 639 600. Sewa sehari all in belum termasuk jip adalah Rp 350.000,-. Sepertinya kami dapat diskon karena menyewa beberapa hari tapi lupa berapa dan kwitansi hilang. Kebetulan waktu dijapri kok pengelolanya menyenangkan dan urusannya cukup mudah. Driver yang diberikan ke kami baik, setirannya enak, nggak banyak bicara tapi segera memberikan beberapa saran kalau kami bingung pengin kemana.

gunung bromo


Kebetulan sopirnya orang Tengger, jadi sudah hapal benar daerah sana. Kami tinggal santai menikmati pemandangan. Ketika matahari sudah terbit dan mungkin yang sedang menyaksikan sunrise sudah bubar, kami sampai di Ngadas untuk berganti jip. Kami diajak kerumah orangtua sopir kami. Entah apakah itu dapur atau ruang tamu, yang jelas kami langsung disuruh makan. Heheheee.... Ruangannya unik karena ada tungku penghangat badan dan kami duduk mengelilinginya sambil minum teh. Yang paling kami sukai adalah kentang gorengnya. Enak, padahal tanpa bumbu, karena kentangnya sendiri sudah enak, hasil pertanian lokal. Kami tidak tahu apakah itu bagian dari paket rental, tapi sebagai orang kota yang jarang makan gratis, kami tetap memberikan sejumlah uang yang kami rasa pantas untuk menghargai jerih payah ibu yang baik hati tersebut memasak.


gunung bromo

Mulailah perjalanan naik jip yang ngeri-ngeri sedap karena banyak jalan yang rusak dan harus bersaing dengan truk serta jip lain. Banyak juga yang nekad menggunakan mobil pribadi, bahkan yang pacaran berboncengan pakai motor matic pun ada. Bisa ditebak, terpaksa si cewek jalan kaki, sedangkan cowoknya mendorong motor agar bisa keluar dari pasir. Mobil pribadi dengan plat luar kota sering menjadi biang macet karena mereka belum hapal medan tapi tak mau sabar mengantri.

Tak lama kemudian, sampailah kami di bukit teletubbies, lalu pasir berbisik. Sungguh ini bukanlah destinasi wisata yang bisa dijelaskan dengan foto, melainkan harus datang sendiri kesana supaya bisa menyaksikan keagungan alam dan penciptanya. Ketika pertama kali tiba, kabut masih menyelimuti. Sempat takut juga kalau tumbukan dengan kendaraan lain karena sama sekali tidak ada jarak pandang. Kami pasrah saja dengan sopir yang sudah hapal daerah tersebut.

gunung bromo


Kami sampai di parkiran Bromo sudah agak siang. Dan saya langsung mematung melihat harus jalan kaki dari parkiran ke gunung yang tak jauh dari situ. Wkwkwkwk.... Akhrinya diputuskanlah naik kuda. Kami meminta sopir mencarikan kuda karena biasalah takut dimahalin. Jadi, satu kuda itu sewanya Rp 100.000,- pulang pergi dari parkiran ke gunung lalu kembali ke parkiran. Was-was juga naiknya karena pengunjung cukup ramai takut nabrak. Kuda ini mengantar kami sampai dekat tangga gunung.

Jadi akhirnya rute Jogja - Bromo jadi seperti ini: Jogja - kereta api - mobil rental - jip - kuda - Bromo - kuda - jip - mobil rental - Malang.

Asik kan tinggal naik tangga saja sampai puncak? Wait! Tidak semudah itu bagi yang suka mager, sekalipun banyak anak-anak kecil yang berlarian naik tangga. Saya memilih belok, makan mie rebus di warung dekat situ. Wkwkwkwk....

gunung bromo


Dari sana, sopir jip mengantar kami ke gardu pandang untuk melihat Bromo dan perkampungan orang Tengger dari atas. Jalannya cukup sempit untuk mobil berpapasan. Apalagi diperkirakan yang melihat sunrise berbondong-bondong turun, sedangkan kami baru mau naik. Jadi harus hati-hati. Ada jalan kaki menaiki tangga juga disini dari parkiran tapi sedikit kok. Sungguh menakjubkan! Turun dari gardu pandang, kami sempat membeli gorengan dan berjogetan diiringi musik khas setempat. Kedengarannya sih seperti musik-musik orang Banyuwangi tapi entahlah, asik aja sih. Heheheee....


gunung bromo


Perjalanan ke Bromo ini memberikan kesan yang mendalam, kenangan yang ingin kami ulang lagi. Semoga masih diberi rejeki dan umur panjang. Apapun gaya travelling kita, yang utama adalah menikmati. Tak perlu berkecil hati jika tak punya foto di puncak seperti yang lain.

gunung bromo


Dalam perjalanan ke Malang, kami bertemu banyak sekali rombongan anak muda menyewa berbagai kendaraan dengan memanggul ransel. Mereka bukannya lebih kesiangan daripada saya, melainkan akan mendaki gunung Semeru. Wiiiih keren banget, ya!

Kami sampai sampai di Malang sudah malam karena jalanan lebih ramai daripada ketika kami berangkat ke Bromo. Kami tidak langsung kembali ke Jogja karena akan menghabiskan 3 hari 2 malam lagi disana.

Baca juga:
Burger Buto Malang
Bakso President Malang
Toko Oen Malang
Eco Green Park Batu

7.3.18

Hujan-hujan Di Lokawisata Baturraden Banyumas

5:00 PM 2 Comments


Road trip di Jawa Tengah bagian tengah  sudah lama banget menjadi obsesi saya. Setelah seumur hidup cuma lewat saja, kali ini diniatkan untuk mengenal lebih dekat. Meski sudah niat, ternyata kami cuma punya waktu 2 hari 1 malam saja. Waaah bisa apa ya?




Karena cuma punya waktu sedikit, kami putuskan untuk fokus dibagian barat dan utara saja. Kami memulai perjalanan dari Jogja pagi hari dengan santai dan sempat mampi di Purworejo untuk sarapan. Perjalanan awalnya berjalan lancar tapi tersendat sejak memasuki wilayah Kebumen karena memang dalam suasana liburan.




Di wilayah Banyumas, terjadilah sedikit kehebohan karena minimnya penunjuk jalan ke arah Baturraden. Meski ada penunjuk jalan ke daerah sekitar, tapi hendaknya Baturraden sebagai destinasi wisata utam disana disebutkan secara khusus. Seringkali wisatawan dari luar kota kurang paham di kota apa persisnya obyek wisata tersebut. Baturraden ini misalnya yang ternyata berada di wilayah Kabupaten Banyumas, padahal lebih dikenal berada di Kota Purwokerto. Jika wisatawan masuk dari selatan tentu kejauhan. Semoga pemerintah daerah Banyumas bisa sudah mengantisipasi hal ini sekarang.



Memasuki kawasan Lokawisata Baturraden, cuaca berubah drastis. Tiba-tiba hujan mengguyur sangat deras hingga kesulitan melihat jalan dengan jelas. Padahal rencananya kami mau makan siang dulu. Buru-buru saya membuka ponsel untuk mencari tempat makan yang recommended. Setelah 2 kali memutar, tak lama ketemu juga warung tersebut.




Setelah makan siang, kami menuju Lokawisata Baturraden dengan suasana hujan deras yang terus mengguyur. Akibatnya, terjadi kekisruhan antara mobil-mobil yang akan parkir karena tidak bisa melihat batas jalan dengan jelas. Kontur tanah yang miring, membuat air yang membludak ke jalan mengalir dengan arus yang sangat deras. Ngeri juga, sih. Ada 2 mobil yang terperosok karena terlalu minggir. Kami tidak mau memaksakan diri untuk parkir tepat didepan pintu seperti itu. Kami bersabar mencari parkiran yang lebih lega dan aman. Akhirnya, dapat parkir di halaman sebuah villa yang memang difungsikan sebagai lahan parkiran umum. Ternyata dari situ pun cukup dekat dengan pintu gerbang.



Selama ini saya salah lo, ternyata bukan Batu Raden atau Baturaden tapi yang benar adalah Baturraden. Di pencarian kata kunci di Google pun yang keluar adalah Baturaden. Bahkan di artikel saya tentang Warung Koboi tersebut masih salah dengan menyebutkan Baturaden. Jadi asal katanya bukan dari Batu Raden atau batunya seorang ningrat. Menurut legenda yang sering diceritakan masyarakat, yang benar itu Baturraden (double R) dari kata Batur dan Raden. Batur itu bahasa Jawa, artinya pembantu. Dikisahkan ada seorang putri bangsawan yang jatuh cinta dengan seorang pembantu. Orangtua sang putri marah dan mengusir keduanya. 



Obyek wisata seputar Lokawisata Baturraden ini sebenarnya sangat luas. Tapi karena cuaca dan waktu, kami tidak sempat mendatangi Pancuran Pitu dan Kebun Raya. Kami fokus ke obyek wisata utama saja. Dengan membayar Rp 14.000,- ( Rp 13.500 untuk tiket masuk dan Rp 500 untuk asuransi), kita sudah bisa menikmati fasilitas kolam renang, cascadane, sepede air, papan luncu dan mandi air panas.



Pemandangan di obyek wisata ini bagus banget, cocok untuk seluruh anggota keluarga. Jika cuaca baik, bisa seharian disini bermain air, trekking atau duduk-duduk saja. Jangan khawatir dengan jembatan yang sempat ambruk dan mengakibatkan banyak korban dulu. Sekarang jembatan tersebut sudah diperbaiki dan kuat. Tapi tetap ada peringatan supaya tidak over capacity. Jadilah pengunjung yang cerdas dengan peduli pada keselamatan orang lain. Dengan kata lain, jangan norak tidak patuh terhadap himbauan tersebut karena orang lain bisa ikut celaka.


Waktu membuat artikel ini, cukup sulit untuk memilih foto yang pemandangannya bagus karena semuanya bagus. Semoga foto-foto ini cukup mewakili keadaan disana. Foto-foto tersebut saya urutkan dari pintu masuk sampai pintu keluar.

Oh ya, untuk makanan, jangan khawatir. Didalam obyek wisata banyak penjual makanan hangat. Jangan lewatkan mendoan, ya. Mendoannya masih hangat dari wajan, pas sekali dengan suasana pegunungan.


2.3.18

Aneka Hidangan Ikan Laut Di Warung Mak Beng Sanur Bali

9:08 PM 0 Comments
Warung Mak Beng Sanur Denpasar Bali

Dibandingkan dengan Warung Jukut Undis yang tayang sebelumnya, mungkin Warung Mak Beng lebih populer dikalangan wisatawan. Lokasi Warung Mak Beng ini dekat dengan Warung Jukut Undis sebelum pindah tersebut. Yang saya ingat adalah makanan di warung ini lezat, suasananya enak dan dekat pantai.

Warung Mak Beng Sanur Denpasar Bali

Saya sampai di warung legendaris Bali ini ditraktir oleh Daihatsu dalam rangka test drive New Luxio beberapa tahun lalu. Karenanya saya tidak perlu heboh antri di warung yang selalu penuh ini. Kami sudah disediakan tempat privat dan nyaman di tepi pantai. Nama tempatnya seperti tertera di papan tulis adalah Arada Restaurant. Makanan yang dipesan di Mak Beng dibawa kesini.

Jalan menuju Warung Mak Beng ramai oleh kendaraan, utamanya sepeda motor, para wisatawan. Sepanjang jalan Hang Tuah juga banyak tempat makan. Mobil yang membawa kami parkir agak jauh dan kami harus jalan kaki sedikit. Terik siang itu tak terasa karena kami bisa sekalian melihat-lihat bangunan adat setempat di kanan dan kiri jalan.

Warung Mak Beng Sanur Denpasar Bali

Kami disambut oleh ibu pemilik restoran yang cantik seperti indo dan ramah. Beliau juga cek satu per satu apakah para tamu puas dengan hidangan yang disajikan.

Warung ini memiliki 1 (satu) paket menu standar yaitu paket nasi, ikan goreng dan soup. Berhubung ditraktir, saya tidak tahu harganya. Tapi jika dicari di internet, harganya sekitar Rp 45.000,-. Menu lain adalah telor ikan dan kepala ikan. Sedangkan untuk minuman lebih banyak pilihan dengan harga sama dengan warung-warung di Jawa. 

Warung Mak Beng Sanur Denpasar Bali

Ikan goreng yang dimaksud adalah seperti diatas. Rasanya enak dan guring. Sedangkan foto yang dibawah ini adalah telor ikan. Saya tidak tahu apakah telor ikan ini termasuk dalam paket. Rasanya juga gurih, saya suka sekali. Selain di Bali, saya pernah mencicip telor ikan di Cilacap, Batam, Pekanbaru dan Dumai. Bahkan di Pekanbaru saya memasaknya tapi biasanya saya dadar. Ternyata enak juga digoreng begini. Sambal Mak Beng juga merupakan penentu rasa yang terlupakan. Nikmat bercampur dengan nasi putih.

Warung Mak Beng Sanur Denpasar Bali

Soup yang dimaksud di menu adalah seperti foto paling atas itu. Segar banget untuk makan siang. Ikannya enggak amis sama sekali. Saya suka sekali menu masakan Bali yang satu ini. Yang khas dari soup ikan Bali adalah dimasukkannya timun. Di Jawa, timun biasanya dimakan mentah sebagai lalap atau acar. Tapi di Bali, timun diolah seperti sayur lainnya. Sepulang saya dari Bali, kadang timun juga saya olah sebagai sayur. 

Makan siang hari itu ditutup dengan demo masak dari koki restoran. Sungguh pengalaman yang mengesankan. Jika teman-teman ke Bali secara mandiri, mungkin tidak akan mendapatkan kenyamanan seperti itu tapi percayalah masakan Mak Beng akan membuatnya impas. 

Warung Mak Beng
Jl. Hang Tuah 45 Sanur
Denpasar - Bali
Telepon: (0361) 282 633

1.3.18

Sarapan Ala Warung Jukut Undis Khas Buleleng Di Sanur

9:36 PM 7 Comments


Judul Sarapan Di Warung Jukut Undis Khas Buleleng Di Sanur ini saya baca berulang-ulang. Takut salah. Heheheee....

Pengalaman sarapan dengan menu khas ini sudah terjadi beberapa tahun lalu dengan sponsor penuh dari Daihatsu. Waktu itu dalam rangka test drive New Luxio di Bali. Iya, saya ikut menjajal keunggulan mobil tersebut, bukan cuma foto-foto dengan background mobil.




Di hari pertama event, kami diajak sarapan di Warung Jukut Undis Hang Tuah. Jukut undis adalah makanan khas Buleleng. Sedangkan Hang Tuah adalah nama jalan di Sanur, tempat warung ini berada. Jangan ditanya ancar-ancar ya, sayapun tak tahu karena diantar panitia. Coba saja dicari dengan google map. Tampilan depan warung seperti foto dan ada patung ganesha-nya. Di etalase juga ada pemberitahuan kalau sudah buka cabang di Jl Danau Buyan 42 A Sanur, telepon 081 239 402 29. Tapi ketika googling, ada yang mengatakan bahwa itu bukan cabang, melainkan semuanya pindah ke Jl Danau Buyan. Benar tidaknya, sebaiknya teman-teman telepon dulu saja kalau mau kesana supaya tidak kecele.



Camilan tradisional.

Warung ini kecil saja, seukuran warung-warung sarapan pada umumnya di Jawa. Tapi lauk yang memenuhi etalasenya sangat lengkap, serupa dengan lauk makan siang dan beberapa cemilan tradisional. Jadi, jukut undis itu yang mana? Apakah jukut undis itu ramesan dari semua lauk tersebut?

Ketika kami masuk, semua kursi yang jumlahnya terbatas itu sudah dibooking oleh panitia. Kami leluasa memilih tempat yang enak untuk sarapan. Seperti sudah insting saja, yang perempuan langsung bergerombol dengan sesamanya. Biar bebas makan, nggak perlu jaga image. Kami bebas makan apa saja dan saya memilih lauk nasi campur Bali yang aman untuk mengawali hari, dalam artian tidak terlalu banyak dan tidak pedas. Jadwal hari itu padat, takut kalau mendapat gangguan dari perut yang mules. Melihat botol bumbu rujak saja saya sudah meringis.


Nasi campur.

Makanan Bali itu nggak kira-kira, isinya lauk semua dan enak-enak. Memang sih kebanyakan pedas, tapi masih bisa memilih kok. Heran juga ya, jarang melihat orang Bali yang "berisi" seperti saya. Ihihiiii.... Sewaktu menghidangkan pilihan saya, ada tambahan sup dalam mangkok kecil. Terlihat asing. Apakah itu?


Jukut Undis.

Itulah jukut undis khas Buleleng. Bentuknya seperti kedelai hitam tapi sebesar kacang dan lebih lembut. Rasa supnya gurih rempah-rempah, cocok sekali untuk sarapan. Dari situs balikami.com saya temukan bahwa manfaat jukut undis selain sebagai makanan adalah mengontrol kolesterol, mencegah diabetes, serta sebagai oksidan untuk mencegah kanker dan jantung.




Untuk harga, maaf tidak bisa memberikan informasi berhubung ditraktir. Sedangkan foto ibu didepan pura ini tidak ada hubungannya dengan warung tersebut. Kebetulan hari itu ada perayaan keagamaan sehingga banyak warga Bali yang lalu lalang sekitar warung mengenakan busana sembahyang. Ketika menuju parkir mobil, saya dan ibu ini saling sapa dan dengan ramah beliau bersedia berpose untuk difoto di depan pura. Sungguh pagi yang indah, perut kenyang dan hati senang.